Vaksinasi Dewasa: Pentingnya Vaksinasi Dewasa untuk Imunitas Jangka Panjang

Charitas Hospital Klepu
Foto Page Detail

Pendahuluan

Vaksinasi tidak hanya penting untuk anak-anak, tetapi juga bagi orang dewasa dan lansia yang tetap berisiko mengalami penyakit infeksi serius. Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan fungsi (immunosenescence), sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan komplikasi penyakit (Ciabattini et al., 2018; Crooke et al., 2019). Selain itu, perlindungan dari beberapa vaksin masa kanak-kanak dapat menurun seiring waktu, sehingga diperlukan vaksin ulang (booster) atau imunisasi kejar (catch-up vaccination) untuk mempertahankan kekebalan tubuh (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2025). Faktor seperti merokok, mobilitas tinggi, serta penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, HIV, dan kanker juga dapat meningkatkan risiko infeksi pada orang dewasa (World Health Organization [WHO], 2025).

Di Indonesia, rekomendasi vaksinasi dewasa disusun oleh Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI dan disesuaikan dengan pedoman WHO serta CDC. Jenis vaksin diberikan berdasarkan usia, kondisi kesehatan, dan faktor risiko masing-masing individu. Sebagai contoh, Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan imunisasi MR pada kelompok dewasa tertentu seperti tenaga kesehatan untuk meningkatkan perlindungan terhadap campak dan rubela yang masih berpotensi menimbulkan wabah (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Jenis-Jenis Vaksin Dewasa

Imunisasi dewasa mencakup berbagai vaksin, antara lain:

  1. Influenza (Flu): Vaksin influenza dianjurkan setiap tahun untuk seluruh orang dewasa, terutama lansia, penderita penyakit kronis, tenaga kesehatan, ibu hamil, perokok, serta calon jemaah haji. Virus influenza dapat berubah setiap tahun dan perlindungan vaksin juga menurun seiring waktu, sehingga vaksinasi perlu diulang secara berkala (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2025; World Health Organization [WHO], 2025).

  1. Difteri–Pertusis–Tetanus (Td/Tdap): Orang dewasa dianjurkan mendapatkan booster Td atau Tdap setiap 10 tahun sekali untuk mempertahankan perlindungan terhadap tetanus dan difteri. Pada ibu hamil, vaksin Tdap direkomendasikan pada setiap kehamilan untuk membantu melindungi bayi dari pertusis dan tetanus neonatorum (CDC, 2025).

  2. HPV (Human Papillomavirus): Vaksin HPV diberikan untuk membantu mencegah kanker serviks, kutil kelamin, dan beberapa kanker lain yang berkaitan dengan infeksi HPV. Vaksin ini paling efektif bila diberikan sebelum terpapar virus HPV dan terbukti mampu menurunkan risiko lesi prakanker serviks secara signifikan (World Health Organization [WHO], 2025).

  3. Herpes Zoster (Cacar Ular): Vaksin herpes zoster direkomendasikan terutama pada usia lanjut untuk mencegah cacar ular dan komplikasi nyeri saraf berkepanjangan. Vaksin rekombinan zoster (RZV) memiliki efektivitas tinggi dan memberikan perlindungan jangka panjang terhadap herpes zoster (CDC, 2025).

  4. Pneumokokus: Vaksin pneumokokus membantu melindungi tubuh dari infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae yang dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, dan sepsis. Vaksin ini sangat dianjurkan pada lansia dan individu dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit paru, atau gangguan ginjal (CDC, 2025).

  5. Hepatitis A dan B: Vaksin hepatitis A dianjurkan bagi pelaku perjalanan, pekerja makanan, dan individu dengan penyakit hati kronis. Sementara itu, vaksin hepatitis B direkomendasikan untuk tenaga kesehatan, individu dengan risiko paparan darah atau cairan tubuh, serta kelompok dengan risiko infeksi tinggi lainnya (WHO, 2025).

  6. COVID-19: Vaksin COVID-19 tetap penting untuk menurunkan risiko gejala berat, rawat inap, dan kematian akibat infeksi SARS-CoV-2. Booster dianjurkan terutama pada lansia, individu imunokompromi, tenaga kesehatan, dan kelompok dengan penyakit penyerta sesuai rekomendasi terbaru (Kementerian Kesehatan RI, 2022).

  7. Vaksin Catch-up dan Travel: Orang dewasa yang belum melengkapi imunisasi masa anak-anak dianjurkan menjalani vaksinasi catch-up, seperti vaksin MMR (campak, gondongan, rubela). Selain itu, beberapa vaksin tambahan juga dapat diperlukan bagi pelaku perjalanan internasional sesuai daerah tujuan dan risiko paparan penyakit tertentu (PAPDI, 2025).

Tabel 1. Perbandingan Beberapa Vaksin Dewasa Utama

Vaksin

Indikasi/Kelompok Risko

Dosis

Efikasi (proteksi)

KIPI Umum (Ringan)

Influenza

Semua dewasa (utama lansia, komorbid)

1× tahunan (bulan sejuk)

~40–60% pada dewasa

Nyeri lokal, demam ringan

Tdap (T-D-P)

Booster tiap 10 th; tiap kehamilan

1× setiap 10 tahun; 1× tiap kehamilan

>90% cegah tetanus; ~90% difteri (efektivitas tinggi)

Reaksi lokal, demam ringan

HPV (wanita)

Perempuan & Laki muda (sebelum aktivitas seksual)

3× (0,1–2 bln, +dosis thn ke-1)

~80–100% cegah kanker serviks untuk tipe HPV target

Nyeri lokal, pusing

Pneumokokus

Dewasa ≥18 (terutama ≥50–60, komorbid)

PCV13 satu dosis → PPSV23 satu dosis (≥50)

~75–80% cegah pneumonia invasif (PCV13)

Nyeri lokal, demam

Zoster (RZV)

Dewasa ≥50 th (atau imunokompromi ≥18)

2× (0 dan 2–6 bln)

~90–97% cegah herpes zoster pada 50–69 th

Nyeri lokal, nyeri otot

Hepatitis A

Traveler, pekerja makanan, penyakit hati kronis

2× (0, 6 bln)

>95% (dua dosis)

Sakit kepala, mual

Hepatitis B

Petugas kesehatan, risiko tinggi (HIV, multiple partner)

3× (0,1,6 bln)

>90% (tiga dosis lengkap)

Nyeri otot, demam ringan

COVID-19

Semua dewasa (primer + booster)

2–3× primer + booster (6–12 bln)

70–95% cegah COVID-19 berat (data Sinovac/AZ/Pfizer)

Nyeri otot, demam, lelah

Efektivitas dan Keamanan

Vaksinasi dewasa telah terbukti efektif dalam mencegah berbagai penyakit infeksi dan menurunkan risiko komplikasi berat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa vaksin tidak hanya melindungi individu, tetapi juga membantu mengurangi angka rawat inap dan kematian di masyarakat. Sebagai contoh, evaluasi di Indonesia menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 dosis lengkap mampu menurunkan risiko infeksi hingga sekitar 84% pada tenaga kesehatan, sekaligus mengurangi angka perawatan rumah sakit dan kematian akibat COVID-19 secara signifikan (Kementerian Kesehatan RI, 2022).

Vaksin influenza atau vaksin flu juga terbukti mampu menurunkan kejadian influenza sekitar 40–60% pada orang dewasa sehat. Pada kelompok lansia, vaksin ini membantu mengurangi risiko komplikasi berat dan kematian akibat flu musiman (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2025). Selain itu, vaksin tetanus, difteri, dan pertusis (Td/Tdap) memberikan perlindungan jangka panjang yang sangat baik terhadap penyakit tetanus dan difteri apabila diberikan sesuai jadwal booster (CDC, 2025).

Vaksin Human Papillomavirus (HPV) juga memiliki manfaat besar dalam pencegahan kanker. Penelitian menunjukkan bahwa vaksin HPV dapat mencegah sekitar 90–100% lesi prakanker serviks yang disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18 bila diberikan sebelum seseorang terpapar virus tersebut (World Health Organization [WHO], 2025). Pada kelompok usia lanjut, vaksin herpes zoster rekombinan (RZV) terbukti memberikan perlindungan lebih dari 90% terhadap penyakit herpes zoster atau cacar ular serta komplikasi nyeri saraf berkepanjangan (Ciabattini et al., 2018).

Sementara itu, vaksin pneumokokus seperti PCV dan PPSV23 membantu mencegah berbagai infeksi serius, termasuk pneumonia dan infeksi invasif lainnya, terutama pada lansia dan pasien dengan penyakit kronis (CDC, 2025). Cakupan vaksinasi yang tinggi pada kelompok dewasa dan lansia juga terbukti membantu mengurangi beban rumah sakit dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Bahkan, berbagai kajian kesehatan menunjukkan bahwa program vaksinasi dewasa termasuk intervensi kesehatan yang cost-effective atau memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan (Andre et al., 2008).

Secara umum, vaksin memiliki profil keamanan yang baik. Efek samping ringan setelah vaksinasi merupakan hal yang cukup umum dan biasanya bersifat sementara. Keluhan yang paling sering muncul meliputi nyeri atau kemerahan pada area suntikan, demam ringan, pegal otot, atau rasa lelah. Sebagian besar keluhan tersebut dapat membaik dengan istirahat yang cukup dan obat penurun demam seperti parasetamol bila diperlukan (CDC, 2025).

Reaksi berat akibat vaksin sangat jarang terjadi. Namun, tenaga kesehatan tetap harus siap melakukan penanganan darurat apabila muncul reaksi alergi berat atau anafilaksis, seperti sesak napas, pusing berat, atau penurunan kesadaran. Selain itu, terdapat beberapa kondisi tertentu yang menjadi perhatian sebelum vaksinasi dilakukan, misalnya riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin, kondisi daya tahan tubuh yang sangat lemah untuk vaksin hidup tertentu, serta kehamilan pada beberapa jenis vaksin hidup seperti MMR dan varisela (WHO, 2025).

Kelompok Risiko Khusus

Beberapa kelompok populasi ini memerlukan perhatian khusus, seperti:

  1. Lansia (≥60 tahun): Lansia memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi karena penurunan fungsi sistem imun dan adanya penyakit penyerta. Oleh karena itu, vaksinasi sangat penting untuk membantu mencegah pneumonia, influenza, herpes zoster, hepatitis, dan COVID-19. Vaksin yang dianjurkan pada lansia meliputi vaksin influenza tahunan, vaksin COVID-19 dan booster, vaksin herpes zoster rekombinan (RZV), serta vaksin pneumokokus sesuai rekomendasi usia dan kondisi kesehatan (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2025).

  2. Ibu Hamil: WHO dan CDC merekomendasikan vaksin influenza pada setiap kehamilan untuk membantu melindungi ibu dan bayi dari komplikasi infeksi flu. Vaksin Tdap juga dianjurkan pada trimester akhir kehamilan guna membantu mencegah pertusis dan tetanus neonatorum pada bayi. Selain itu, vaksin COVID-19 dinyatakan aman pada kehamilan dan membantu menurunkan risiko penyakit berat pada ibu hamil (World Health Organization [WHO], 2025). Namun, vaksin hidup seperti MMR dan varisela umumnya tidak dianjurkan selama kehamilan.

  3. Individu Imunokompromi: Kelompok ini meliputi pasien HIV, kanker, penerima kemoterapi, atau transplantasi organ. Pada kondisi daya tahan tubuh rendah, vaksin hidup tertentu sebaiknya dihindari karena berisiko menimbulkan infeksi. Sebaliknya, vaksin inaktif seperti influenza, COVID-19, HPV, pneumokokus, dan herpes zoster rekombinan tetap dianjurkan sesuai kondisi pasien (CDC, 2025).

  4. Penderita Penyakit Kronis: Individu dengan diabetes, penyakit jantung, penyakit paru kronis, penyakit ginjal, maupun gangguan hati memiliki risiko komplikasi infeksi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, vaksinasi influenza, pneumokokus, hepatitis, dan COVID-19 sangat dianjurkan untuk membantu mencegah penyakit berat dan rawat inap (WHO, 2025).

  5. Tenaga Kesehatan dan Petugas Publik: Karena memiliki risiko paparan infeksi yang tinggi, tenaga kesehatan dianjurkan melengkapi vaksinasi seperti hepatitis B, influenza tahunan, COVID-19, MMR, varisela, serta booster Td/Tdap untuk membantu melindungi diri sendiri maupun pasien (CDC, 2025).

  6. Pelajar atau Pekerja di Lingkungan Padat: Individu yang tinggal atau bekerja di lingkungan dengan kepadatan tinggi seperti asrama, sekolah, atau tempat tinggal bersama dianjurkan melengkapi vaksinasi dasar seperti MMR untuk membantu mencegah penyebaran penyakit menular.

 

  1. Pelancong dan Calon Jemaah Haji/Umrah: Pelaku perjalanan internasional perlu menyesuaikan vaksinasi dengan daerah tujuan. Pada calon jemaah haji, vaksin meningokokus merupakan syarat wajib, sedangkan vaksin influenza, polio, hepatitis A, dan vaksin lain dapat dianjurkan sesuai risiko paparan dan ketentuan negara tujuan (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Setelah vaksinasi, sebagian orang dapat mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), yaitu keluhan atau gejala medis yang muncul setelah pemberian vaksin. Sebagian besar KIPI bersifat ringan dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membentuk respons kekebalan. KIPI yang paling sering terjadi meliputi nyeri, kemerahan, atau bengkak pada lokasi suntikan, serta gejala ringan seperti demam, pegal, sakit kepala, mengantuk, atau rasa lemas. Keluhan ini umumnya akan membaik dalam 1–3 hari dan dapat diatasi dengan istirahat yang cukup, minum air yang cukup, kompres dingin pada area suntikan, serta konsumsi obat penurun demam seperti parasetamol bila diperlukan (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2025).

KIPI dibagi menjadi beberapa kategori, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. KIPI ringan merupakan yang paling sering ditemukan dan biasanya tidak berbahaya. Sementara itu, KIPI berat seperti reaksi alergi berat atau anafilaksis sangat jarang terjadi. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas, pembengkakan wajah atau bibir, denyut jantung cepat, pusing berat, hingga penurunan kesadaran. Oleh karena itu, tenaga kesehatan biasanya akan melakukan observasi selama 15–30 menit setelah vaksinasi untuk memastikan tidak ada reaksi serius yang muncul (World Health Organization [WHO], 2025).

Penting untuk dipahami bahwa munculnya KIPI tidak berarti vaksin berbahaya. Sebagian besar vaksin telah melalui uji keamanan dan efektivitas yang ketat sebelum digunakan secara luas. Dibandingkan risiko efek sampingnya, manfaat vaksinasi dalam mencegah penyakit berat, rawat inap, komplikasi, dan kematian jauh lebih besar. Edukasi yang tepat mengenai KIPI juga penting untuk membantu mengurangi kekhawatiran masyarakat dan mencegah penyebaran informasi yang tidak benar mengenai vaksinasi.

Kesimpulan

Vaksinasi dewasa merupakan salah satu langkah pencegahan yang efektif dan aman untuk menjaga kesehatan serta imunitas jangka panjang. Dengan mengikuti rekomendasi dari PAPDI, Kementerian Kesehatan RI, dan WHO, setiap orang dewasa dapat memperoleh vaksinasi yang sesuai dengan usia, kondisi kesehatan, serta faktor risiko masing-masing. Jenis vaksin yang dianjurkan tidak hanya terbatas pada vaksin rutin seperti influenza dan Td/Tdap, tetapi juga mencakup vaksin tambahan seperti HPV, pneumokokus, herpes zoster, hepatitis, dan COVID-19.

Peningkatan cakupan vaksinasi dewasa dapat membantu menurunkan angka penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi, mengurangi risiko rawat inap, meningkatkan kualitas hidup, serta memperkuat perlindungan masyarakat melalui herd immunity (World Health Organization [WHO], 2025). Oleh karena itu, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam memberikan edukasi, mengenali kebutuhan imunisasi pasien, serta menyampaikan informasi mengenai manfaat dan keamanan vaksin secara jelas dan berbasis bukti ilmiah. Dukungan program kesehatan masyarakat dan edukasi yang berkelanjutan juga diperlukan agar kesadaran masyarakat terhadap pentingnya vaksinasi dewasa semakin meningkat

Referensi

Andre, F. E., Booy, R., Bock, H. L., Clemens, J., Datta, S. K., John, T. J., Lee, B. W., Lolekha, S., Peltola, H., Ruff, T. A., Santosham, M., & Schmitt, H. J. (2008). Vaccination greatly reduces disease, disability, death and inequity worldwide. Bulletin of the World Health Organization, 86(2), 140–146. https://doi.org/10.2471/BLT.07.040089

Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Adult immunization schedule by age. U.S. Department of Health and Human Services. https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/imz-schedules/adult-age.html

Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Adult immunization schedule by medical condition and other indication. U.S. Department of Health and Human Services. https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/imz-schedules/adult-medical-condition.html

Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Recommended adult immunization schedule for ages 19 years or older, United States, 2025. Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR), 74(5), 1–10. https://www.cdc.gov/mmwr

Ciabattini, A., Nardini, C., Santoro, F., Garagnani, P., Franceschi, C., & Medaglini, D. (2018). Vaccination in the elderly: The challenge of immune changes with aging. Seminars in Immunology, 40, 83–94. https://doi.org/10.1016/j.smim.2018.10.010

Crooke, S. N., Ovsyannikova, I. G., Poland, G. A., & Kennedy, R. B. (2019). Immunosenescence and human vaccine immune responses. Immunotherapy, 11(8), 711–721. https://doi.org/10.2217/imt-2018-0204

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Vaksinasi COVID-19 melindungi tenaga kesehatan dari gejala berat dan kematian. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Pedoman pelaksanaan imunisasi dewasa di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. (2025). Rekomendasi imunisasi dewasa PAPDI 2025. Jakarta: PAPDI.

World Health Organization. (2023). Vaccines and immunization: What is vaccination? https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/vaccines-and-immunization-what-is-vaccination

World Health Organization. (2025). Vaccines and immunization. World Health Organization. https://www.who.int/health-topics/vaccines-and-immunization

Zimmermann, P., & Curtis, N. (2019). Factors that influence the immune response to vaccination. Clinical Microbiology Reviews, 32(2), e00084-18. https://doi.org/10.1128/CMR.00084-18

 

Jangan biarkan penurunan imunitas karena usia atau aktivitas padat membuat Anda rentan terhadap penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Perlindungan terbaik adalah dengan proaktif melengkapi data imunisasi Anda.

Mengapa Anda Harus Daftar MyCharitas Sekarang?

Sesuai dengan rekomendasi Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, aplikasi MyCharitas hadir untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan vaksinasi Anda:

  • Konsultasi Spesialis Penyakit Dalam: Diskusikan kondisi kesehatan atau komorbid Anda (seperti diabetes atau jantung) untuk mendapatkan rekomendasi jenis vaksin yang paling tepat dan aman.

  • Layanan Vaksinasi Praktis & Terjadwal: Cek ketersediaan berbagai jenis vaksin dewasa (seperti Influenza, Pneumokokus, hingga HPV) dan lakukan reservasi jadwal suntik langsung lewat aplikasi MyCharitas tanpa perlu mengantre lama.

  • Perlindungan Kelompok Risiko Khusus: Layanan khusus bagi lansia, ibu hamil, maupun persiapan pelancong/jemaah umrah untuk memastikan seluruh dokumen dan proteksi kesehatan siap sebelum berangkat.

"Kesehatan di masa tua ditentukan oleh tindakan preventif yang kita ambil hari ini. Daftar MyCharitas sekarang dan pastikan perisai imun tubuh Anda serta keluarga tetap kuat dan terjaga."


Kembali
Charitas Mobile Care